Search

Kisah Ita, Bulek Sayur yang Menjemput Rezeki di Tengah Pandemi - Balikpapan Pos

PROKAL.CO, Pintu rezeki selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha. Jangan jadikan rasa malas dan malu sebagai hambatan untuk berupaya. Takdir memang ketetapan, namun hidup harus terus berjalan. Hal inilah yang menjadi pemacu Ita Dwi Aditya, bule sayur dari Kutai Kartanegara.

DIAH ANGGRAENI/BALIKPAPAN POS

PUKUL 07.00 Wita, Ita -begitu akrab disapa- sudah bersiap. Mengenakan celana kain abu-abu dan kaus berwarna cokelat, Ita akan menjemput rezekinya. Hari itu, perempuan berusia 30 tahun tersebut mendapat banyak pesanan. Mulai dari sayur, buah, hingga ikan pindang.

Ita merupakan warga RT 6, Kelurahan Salok Api Laut, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dirinya merupakan bu lik sayur yang melek teknologi. Pemasarannya dilakukan via daring atau online, yakni melalui Facebook.

“Saya sudah berjualan online sekira dua tahunan,” kata Ita.

Awal dari coba-coba karena tidak ada kerjaan, petai menjadi dagangan pertama. Dagangan laris-manis, dirinya lantas menambah jenis dagangannya. Jengkol menjadi pilihan keduanya.

“Pokoknya apa yang dipanen, itu yang saya jual. Ada panen buah durian, elai, hingga rambutan, juga saya jual,” ungkap perempuan yang merantau ke Balikpapan sejak tujuh tahun lalu ini.

Ita tidak menyangka usahanya akan menjadi sumber penghidupannya saat ini. Dari penghasilan jualan online, Ita bisa menghidupi keluarganya.

“Awal jualan online itu hanya coba-coba. Awal jualan itu petai. Kok enak (jualan lancar, Red.), saya pun cari jengkol. Pokoknya musim apa, itu yang saya jual,” terang ibu tiga anak ini.

Di Samboja, Ita tinggal bersama suami dan anak bungsunya. Orangtua dan dua anaknya tinggal di Jombang, Jawa Timur.

Ita meyakini, selalu ada jalan selama mau berusaha. Lelah yang dirasakannya akan menjadi kebahagiaan keluarganya. Apalagi sang suami, Karim Abdul Jabbar, kini tidak lagi bekerja.

Lek ora gerak, ora mangan (kalau tidak bergerak, tidak makan. Apalagi, saat ini bojoku (suami, Red.) pengangguran. Dulunya kerja sebagai tukang,” ujar wanita yang hanya tamatan SMP ini.

BAWA BEBAN RATUSAN KILOGRAM

Ada hikmah di balik musibah. Hal inilah yang kini dirasakan Ita. Pandemi Covid-19 yang tengah terjadi menjadi berkah bagi dirinya. Kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah membuat usahanya banyak dicari pembeli.

“Laju-laju saja sih (penjualan sebelum Covid-19, Red.). Tapi kemarin itu, pas adanya corona, pesanan jeruk bisa sampai 400 kilogram,” ungkap Ita.

Dagangan berupa sayur dan buah dibeli dari Pasar Manggar, Balikpapan Timur. Sedangkan petai, jengkol, dan buah-buahan dibeli langsung dari para petani.

“Kebetulan di sekitar sini (rumah, Red.) banyak petani, saya ambil buah dari mereka. Tapi, ada juga yang dari daerah kilo,” katanya.

Beban yang harus dibawa, tak pernah dihiraukannya. Menggunakan sepeda motor, dia mengantar pesanan para pelanggannya. Berpuluh-puluh kilometer jalan ditempuh. Mulai dari rumah di Salok Api Laut hingga Kampung Baru, Balikpapan Barat dan Kilometer 10, Balikpapan Utara.

“Minimal sekali bawa itu, 100 kilogram. Berat itu pasti, tapi mau bagaimana lagi,” lanjutnya.

Beratnya dagangan yang harus diantar, tidak jarang membuatnya harus bolak-balik. Bahkan, harus berangkat pagi dan pulang malam. Keluarga yang selalu menjadi sumber kekuatannya.

  “Kalau sampai 400 kilo itu, saya bolak-balik. Kadang juga dibantu sama bojo-ku. Pernah juga bawa 300 kilogram sendiri. Berat sih, pernah oleng juga. Tapi, alhamdulillah, tidak sampai roboh,” jelasnya.

Ita bahkan pernah mengantarkan 75 pesanan ke lokasi yang berbeda-beda. Berangkat pukul 07.00 Wita, pulang pukul 22.00 Wita. Hal itu dibagi menjadi tiga kali pengantaran, sehingga dia harus bolak-balik.

“Saya memang langsung bawa banyak karena hemat bensin. Kalau pesanan banyak kayak gitu, saya bisa dapat penghasilan Rp 500 ribu sehari. Tapi, kalau enggak banyak pesanan, paling Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu saja. Kalau sepi banget Rp 150 ribu,” ungkap dia.

Sementara untuk ongkos kirim, Ita mematok biaya yang sama untuk semua lokasi. Hanya Rp 5 ribu. Dia juga ingin membantu sesama meski kemampuannya masih terbatas.

“Kadang free ongkir (ongkos kirim), karena enggak mau bayar. Tapi, selama ini Rp 5 ribu mau jauh atau dekat. Ya, mau gimana lagi, kasihan yang punya uang pas-pasan tapi pengin belanja. Ora iso berbagi, isone ngunu tok (tidak bisa berbagi, bisanya hanya itu),” tuturnya.

Meski ada rasa khawatir tertular Covid-19, namun dia tidak punya pilihan. Kebutuhan sehari-hari tidak bisa ditunda. Ita hanya bisa pasrah, semua sudah ada yang mengatur. (dia/cal)

Let's block ads! (Why?)



"sayur" - Google Berita
April 27, 2020 at 12:00PM
https://ift.tt/3aE4XXK

Kisah Ita, Bulek Sayur yang Menjemput Rezeki di Tengah Pandemi - Balikpapan Pos
"sayur" - Google Berita
https://ift.tt/2MUT4Fn

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Kisah Ita, Bulek Sayur yang Menjemput Rezeki di Tengah Pandemi - Balikpapan Pos"

Post a Comment

Powered by Blogger.